Palu - Himpunan Nelayan Sulawesi Tengah menilai pembangunan tanggul anti tsunami oleh PT. Adhi Karya di pesisir Teluk Palu berpotensi memutuskan mata pencaharian para nelayan.
Saat dihubungi, Djaya Rahman selaku ketua Himpunan Nelayan Sulawesi Tengah mengatakan akan terus mengupayakan untuk melakukan mediasi mengenai pembangunan proyek tersebut kepada pihak kontraktor.
"Karena kami sebagai nelayan hingga saat ini belum menerima sosialisasi pembangunan proyek tersebut yang seharusnya harus dilakukan sebelum proyek berjalan," ungkapnya, Kamis (16/04).
Selain itu, pembangunan tanggul tersebut dinilai dapat menghambat akses bagi nelayan untuk melaut.
"Perahu nelayan yang berbahan kayu sehabis melaut harus didaratkan agar ketahanan perahu terjaga, sementara daerah tambatan perahu tersebut akan tertutup tanggul yang berisi batu gajah dengan tinggi 3-6 meter," lanjutnya.
Djaya mengaku sebelumnya sudah menyurat ke DPRD Sulteng untuk memfasilitasi mediasi dengan pihak PT. Adhi Karya.
"Tetapi mediasi tersebut masih tertunda, karena wabah pandemi Covid-19 ini," kata Ketua Himpunan Nelayan Sulteng itu.
Sementara saat ini nelayan di wilayah Kelurahan Lere sudah melakukan aksi penghadangan terhadap pekerja proyek tersebut.
"Sudah berjalan dua minggu aksi penghentian pengerjaan proyek tersebut, kami juga akan melakukan aksi yang lebih besar jika Pemerintah belum mendegarkan keluhan kami," tutupnya
Penulis : Indra Setiawan
Saat dihubungi, Djaya Rahman selaku ketua Himpunan Nelayan Sulawesi Tengah mengatakan akan terus mengupayakan untuk melakukan mediasi mengenai pembangunan proyek tersebut kepada pihak kontraktor.
"Karena kami sebagai nelayan hingga saat ini belum menerima sosialisasi pembangunan proyek tersebut yang seharusnya harus dilakukan sebelum proyek berjalan," ungkapnya, Kamis (16/04).
Selain itu, pembangunan tanggul tersebut dinilai dapat menghambat akses bagi nelayan untuk melaut.
"Perahu nelayan yang berbahan kayu sehabis melaut harus didaratkan agar ketahanan perahu terjaga, sementara daerah tambatan perahu tersebut akan tertutup tanggul yang berisi batu gajah dengan tinggi 3-6 meter," lanjutnya.
Djaya mengaku sebelumnya sudah menyurat ke DPRD Sulteng untuk memfasilitasi mediasi dengan pihak PT. Adhi Karya.
"Tetapi mediasi tersebut masih tertunda, karena wabah pandemi Covid-19 ini," kata Ketua Himpunan Nelayan Sulteng itu.
Sementara saat ini nelayan di wilayah Kelurahan Lere sudah melakukan aksi penghadangan terhadap pekerja proyek tersebut.
"Sudah berjalan dua minggu aksi penghentian pengerjaan proyek tersebut, kami juga akan melakukan aksi yang lebih besar jika Pemerintah belum mendegarkan keluhan kami," tutupnya
Penulis : Indra Setiawan
Comments
Post a Comment